Farmasi Indonesia: 95% Obat Diproduksi Lokal, 85% Bahan Bakunya Masih Impor

farmasi indonesia

TL;DR

Indonesia adalah pasar farmasi terbesar di Asia Tenggara, dengan nilai penjualan diperkirakan mencapai Rp176,3 triliun pada 2025. Industri ini tumbuh konsisten dan 95% obat jadi sudah diproduksi secara lokal. Namun satu masalah besar masih menggantung: sekitar 85% bahan baku obat masih diimpor dari China dan India.

Sebanyak 95% obat yang beredar di Indonesia diproduksi di pabrik lokal. Tapi hampir semua bahan baku untuk membuat obat itu datang dari luar negeri, terutama China dan India. Inilah gambaran farmasi Indonesia hari ini: pasar yang besar dan terus tumbuh, tapi strukturnya masih rapuh di bagian hulu.

Saat pandemi COVID-19, ketergantungan itu terasa langsung: pasokan bahan baku terganggu, harga naik, dan rantai produksi obat dalam negeri pun ikut terguncang. Dari situlah urgensi membenahi industri farmasi Indonesia dari hulu ke hilir semakin jelas. Simak penjelasannya berikut ini.

Pasar Farmasi Indonesia: Terbesar di Asia Tenggara

Indonesia adalah pasar farmasi terbesar di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan proyeksi Fitch Ratings, nilai penjualan obat di Indonesia diperkirakan mencapai Rp176,3 triliun pada 2025, naik dari Rp110,6 triliun pada 2020. Itu setara tingkat pertumbuhan tahunan hampir 10% dalam lima tahun. Angka ini menempatkan Indonesia jauh di atas negara-negara ASEAN lainnya dalam ukuran pasar farmasi absolut.

Ukuran pasar sebesar ini wajar mengingat jumlah penduduk Indonesia yang melewati 270 juta jiwa. Ditambah berlakunya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sejak 2014 yang membuka akses layanan kesehatan lebih luas, permintaan obat-obatan terus naik setiap tahunnya. Skema JKN juga mendorong konsumsi obat generik secara masif karena sistem ini menyerap obat dalam volume besar melalui jaringan rumah sakit dan puskesmas di seluruh Indonesia.

Pertumbuhan industri farmasinya konsisten. Kementerian Perindustrian mencatat industri farmasi tumbuh 8,01% pada kuartal II 2024, dengan ekspor farmasi dan obat bahan alam mencapai US$639,42 juta atau setara Rp9,9 triliun sepanjang Januari hingga September 2024. Angka ekspor ini menunjukkan industri farmasi Indonesia bukan sekadar memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi mulai melirik pasar luar.

Siapa yang Memimpin Pasar Farmasi Indonesia?

Industri farmasi Indonesia didominasi perusahaan lokal. Data Kemenperin menunjukkan perusahaan farmasi dalam negeri menguasai 80,74% pasar pada kuartal I 2024, jauh di atas perusahaan multinasional yang menguasai 19,26%. Produk resep menjadi kontributor terbesar dengan porsi 67,7% dari total pasar.

Ada 11 perusahaan farmasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan total aset Rp80,1 triliun per September 2024. Kalbe Farma adalah yang terbesar dengan aset Rp28,8 triliun, sementara Indofarma yang terkecil dengan aset Rp758 miliar. Secara keseluruhan, total penjualan ke-11 perusahaan ini mencapai Rp58,8 triliun hingga kuartal ketiga 2024, naik dari Rp51,9 triliun pada periode yang sama di 2021.

Sejak JKN berlaku, pasar obat generik menjadi arena persaingan utama. Kalbe Farma, Kimia Farma, hingga Darya-Varia Laboratoria berlomba memperkuat porsi di segmen ini karena penyerapan obat melalui jaringan JKN sangat besar. Di balik persaingan perusahaan-perusahaan besar itu, ada ratusan ribu tenaga teknis kefarmasian yang bekerja di apotek, rumah sakit, dan puskesmas di seluruh Indonesia, sebagian besar terhimpun dalam Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) yang berdiri sejak 13 Februari 1946 di Yogyakarta.

Baca juga: SIPAFI Bandar Lampung: Era Baru Digitalisasi Ahli Farmasi di Kota Tapis Berseri

85% Bahan Baku Masih Diimpor dari China dan India

Di balik angka pertumbuhan yang positif, ada celah struktural yang sudah lama diketahui tapi belum sepenuhnya terselesaikan. Sekitar 85% bahan baku obat di Indonesia masih diimpor, mayoritas dari India dan China. Untuk bahan aktif farmasi (active pharmaceutical ingredients atau API), ketergantungannya bahkan mendekati 90%.

Ini bukan berarti Indonesia tidak punya kapasitas produksi obat. Justru sebaliknya: 95% obat jadi sudah diproduksi di pabrik dalam negeri. Masalahnya ada di lapisan paling hulu, yakni bahan baku itu sendiri. Ketika pasokan dari China atau India terganggu, entah karena kebijakan ekspor, pandemi, atau tekanan geopolitik, seluruh rantai produksi obat Indonesia ikut terdampak.

Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita pernah menyebut bahwa dominasi India dan China di pasar bahan baku farmasi global hanya bisa dipatahkan jika Indonesia serius mengembangkan bahan baku dari kekayaan alam sendiri. Potensinya memang ada. Indonesia punya biodiversitas yang luar biasa, mulai dari tanaman obat hingga biota laut, yang bisa dijadikan sumber bahan aktif farmasi. Tapi jalur dari riset ke produksi massal membutuhkan waktu antara 5 hingga 15 tahun, seperti yang disampaikan peneliti dari Universitas Gadjah Mada dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2025.

Harga juga jadi hambatan yang tidak kecil. Bahan baku lokal saat ini belum kompetitif dibanding impor. Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Keri Lestari Dandan menyebut bahwa secara bisnis, bahan baku impor masih lebih disukai karena lebih murah. Tanpa insentif yang cukup kuat, industri akan terus memilih jalur yang lebih ekonomis.

Tiga Langkah Pemerintah Menuju Kemandirian Farmasi

Pemerintah tidak diam menghadapi situasi ini. Kemenkes mempercepat kemandirian farmasi melalui tiga jalur: percepatan produksi bahan baku obat (BBO) di dalam negeri, pengetatan tata niaga impor untuk 22 jenis bahan baku yang sudah bisa diproduksi secara lokal, dan jaminan pasar melalui regulasi yang mewajibkan penggunaan sediaan farmasi berbahan baku dalam negeri.

Kemenperin menargetkan sektor kimia, farmasi, dan tekstil tumbuh 6,59% pada 2025, dengan subsektor farmasi dan obat tradisional ditargetkan tumbuh antara 7,98% hingga 9,33% per tahun hingga 2029. Kontribusi subsektor ini terhadap PDB nasional juga ditargetkan naik dari 1,44% menjadi 1,62% dalam periode yang sama.

Holding BUMN Farmasi yang terdiri dari Bio Farma, Kimia Farma, dan Indofarma juga dibentuk salah satunya dengan misi menekan ketergantungan impor. Target kelompok BUMN ini adalah mengurangi ketergantungan bahan baku hingga 20% dari angka saat ini. Tidak mudah, karena industri kimia dasar yang jadi fondasi produksi API juga perlu dibenahi sekaligus. Proses registrasi variasi ke BPOM saat mengganti bahan baku impor ke lokal pun masih memakan waktu 1,5 hingga 2 tahun, sebuah hambatan birokrasi yang diakui Bio Farma perlu dipangkas.

Baca juga: Otomasi Kerja: Ancaman atau Peluang bagi Tenaga Kerja Indonesia?

Obat Herbal dan Kekayaan Alam sebagai Peluang Jangka Panjang

Indonesia menghasilkan 19.000 produk jamu, 99 produk obat herbal terstandar, dan 33 produk fitofarmaka. Ini bukan sekadar warisan tradisi, tapi potensi industri yang mulai mendapat perhatian serius. Proyeksi nilai pasar farmasi berbasis bahan alam Indonesia pada 2030 mencapai USD 9,6 miliar, menurut kajian yang dipresentasikan dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2025 di ITB.

Bahkan produk lokal seperti bahan aktif meniran sudah berhasil masuk pasar Inggris, menjadi bukti bahwa inovasi farmasi Indonesia mulai mendapat pengakuan di luar negeri. Kemenperin juga tengah membangun House of Wellness, fasilitas produksi obat bahan alam di bawah unit kerja BBSPJIKFK, sebagai infrastruktur untuk mendorong hilirisasi bahan alam ke produk farmasi bernilai tinggi.

Farmasi Indonesia punya fondasi yang kuat: pasar domestik terbesar di ASEAN, industri manufaktur obat yang matang, dan kekayaan hayati yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Yang masih perlu dibenahi ada di rantai paling hulu, dari membangun ekosistem produksi bahan baku aktif hingga memastikan insentif cukup menarik agar industri mau berinvestasi di sana. Jika ketergantungan impor bahan baku berhasil ditekan, industri ini punya peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan manufaktur kesehatan terbesar di Asia.

Scroll to Top