
Bandar Lampung bukan kota yang jauh — secara garis udara, jaraknya dari Jakarta hanya sekitar 165 kilometer. Tapi karena Selat Sunda memisahkan Jawa dan Sumatera, perjalanan ke sana membutuhkan perencanaan yang sedikit berbeda dari perjalanan antarkota biasa. Ada beberapa moda transportasi yang tersedia, masing-masing dengan kelebihan dan konsekuensi waktu serta biaya yang perlu dipertimbangkan sebelum berangkat.
Sebagai ibu kota Provinsi Lampung sekaligus kota terbesar di Sumatera bagian selatan, Bandar Lampung adalah titik temu antara dua pulau besar — dan itu tercermin dalam banyaknya pilihan rute yang tersedia bagi siapa pun yang ingin sampai ke sana.
Naik Bus atau Travel: Pilihan Paling Populer
Rute darat via kapal feri adalah cara yang paling banyak dipilih orang untuk perjalanan Jakarta-Bandar Lampung, terutama karena harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan pesawat dan lebih fleksibel dibandingkan membawa kendaraan sendiri.
Rute standarnya adalah: Jakarta — Tol Jakarta-Merak — Pelabuhan Merak — feri — Pelabuhan Bakauheni — Tol Bakauheni-Terbanggi Besar — Bandar Lampung.
Beberapa operator bus besar yang melayani rute ini antara lain DAMRI, Sinar Jaya, Pahala Kencana, dan Lorena. Selain bus, banyak juga jasa travel door-to-door dengan layanan penjemputan langsung dari rumah penumpang, yang cocok untuk yang tidak ingin repot ke terminal. Tarif bus berkisar di angka Rp200.000-Rp280.000, sementara travel berkisar Rp250.000-Rp350.000 tergantung titik keberangkatan dan tujuan akhir.
Total waktu tempuh sekitar 8-12 jam, tergantung kondisi lalu lintas di Jakarta dan antrean kapal feri di Pelabuhan Merak. Pelabuhan Merak bisa sangat padat terutama saat musim mudik — ini salah satu variabel yang paling sulit diprediksi di rute ini. Jadwal malam umumnya lebih lancar karena lalu lintas Jakarta sudah jauh lebih sepi.
Penyeberangan Merak-Bakauheni sendiri memakan waktu sekitar 2-3 jam dalam kondisi normal. Tiket feri untuk penumpang pejalan kaki bisa dibeli langsung di pelabuhan atau melalui aplikasi ASDP Indonesia Ferry, dengan harga sekitar Rp15.000-Rp20.000 per orang.
Naik Pesawat: Tercepat, tapi Perlu Diperhitungkan Ulang
Waktu tempuh penerbangan Bandar Lampung-Jakarta hanya sekitar 45-50 menit. Bandara yang melayani Bandar Lampung adalah Bandara Radin Inten II (kode: TKG), berlokasi di Natar, Lampung Selatan — sekitar 16 kilometer dari pusat kota.
Maskapai yang rutin beroperasi di bandara ini antara lain Lion Air, Garuda Indonesia, Citilink, Super Air Jet, Batik Air, dan Indonesia AirAsia. Rute Jakarta menjadi yang paling ramai, dengan lebih dari enam penerbangan per hari di kedua arah. Selain Jakarta, tersedia juga penerbangan langsung ke Medan, Batam, Bali, Surabaya, dan beberapa kota besar lainnya.
Ada perkembangan menarik yang perlu diketahui: sejak Februari 2026, Bandara Radin Inten II resmi kembali berstatus internasional dan sudah membuka rute perdana ke Kuala Lumpur. Ini kabar baik bagi sekitar 24.000 jemaah umrah asal Lampung yang selama ini harus berangkat dulu ke Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan.
Soal harga, tiket pesawat promosi bisa sangat kompetitif — bisa jauh lebih murah dari yang dibayangkan, terutama jika dipesan jauh hari. Tapi ada biaya tambahan yang sering terlupakan: transportasi ke bandara (Radin Inten II tidak terletak di dalam kota), dan di Jakarta perlu diperhitungkan juga biaya menuju atau dari Bandara Soekarno-Hatta. Kalau dijumlahkan, pesawat tidak selalu lebih hemat dari travel, meski jauh lebih cepat.
Bawa Kendaraan Pribadi: Fleksibel tapi Ada Hitungannya
Bagi yang ingin fleksibilitas penuh selama di Bandar Lampung — atau yang bepergian bersama keluarga besar — membawa mobil sendiri adalah pilihan yang masuk akal.
Rute dasarnya sama: masuk Tol Jakarta-Merak, menyeberang di Pelabuhan Merak, lalu lanjut lewat Tol Bakauheni-Terbanggi Besar menuju Bandar Lampung. Berdasarkan data dari Traveloka, estimasi biayanya kurang lebih seperti ini untuk sekali jalan:
| Komponen | Estimasi Biaya |
|---|---|
| Tol Jakarta-Merak | Rp50.000-60.000 |
| Tiket feri (mobil gol. I + penumpang) | Rp400.000-420.000 |
| Tol Bakauheni-Terbanggi Besar | Rp110.000-120.000 |
| Bahan bakar | Rp400.000-500.000 |
| Total | ~Rp960.000-1.100.000 |
Angka itu untuk satu kendaraan, bukan per orang — jadi kalau pergi berempat atau berlima, biaya per orang bisa jauh lebih murah dari naik travel. Waktu tempuh berkisar 8-10 jam tergantung kondisi lalu lintas dan seberapa lama antrean di Pelabuhan Merak.
Satu hal yang perlu diperhatikan: kondisi jalan di dalam kota Bandar Lampung cukup variatif. Begitu masuk ke kawasan Tanjung Karang atau Teluk Betung, siap-siap dengan jalan-jalan yang lebih sempit dan lalu lintas yang lebih padat dibanding jalur tolnya.
Mana yang Paling Tepat?
Tidak ada jawaban tunggal — semuanya tergantung prioritas.
Kalau waktu adalah faktor utama, pesawat jelas tidak tertandingi. Empat puluh lima menit versus delapan jam itu perbedaan yang nyata, terutama untuk perjalanan bisnis. Kalau anggaran terbatas tapi waktu lebih fleksibel, bus atau travel adalah pilihan paling hemat tanpa perlu menanggung biaya tambahan ke dan dari bandara. Kalau bepergian bersama keluarga dengan barang bawaan banyak, atau membutuhkan mobil selama di Lampung, membawa kendaraan sendiri bisa jadi yang paling efisien secara total.
Yang sering diabaikan orang adalah waktu “dari pintu ke pintu” — bukan hanya waktu di atas kendaraan. Pesawat memang cepat, tapi check-in dua jam sebelumnya, perjalanan ke Soekarno-Hatta, dan menuju pusat kota dari Radin Inten II bisa mengubah perjalanan 45 menit menjadi setengah hari. Sementara travel door-to-door, meskipun 8-10 jam, dimulai dari depan rumah dan berakhir di tujuan tanpa perpindahan tambahan.
Bandar Lampung terus tumbuh sebagai kota dengan konektivitas yang makin kuat — dan pilihan rute menuju ke sana pun terus berkembang, termasuk dengan kembalinya penerbangan internasional langsung dari Radin Inten II. Bagi siapa pun yang merencanakan perjalanan ke sana, yang terpenting adalah memilih moda yang paling sesuai dengan kondisi dan kebutuhan spesifik perjalanan Anda — bukan sekadar yang paling murah atau paling populer.
